Catatan :
Showing posts with label Kumpulan Awan Unik. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Awan Unik. Show all posts

Saturday, July 25, 2015

Fallstreak Hole atau Hole Punch Clouds, Lubang Awan di Udara


Awan Fallstreak Hole memiliki beberapa nama lain seperti Hole Punch Clouds (lubang pukulan awan), Punch Hole Clouds (pukulan lubang awan), Canal Clouds (kanal awan), dan Clouds Hole (lubang awan). Hole Punch Clouds atau awan Fallstreak Hole merupakan awan yang memiliki bentuk lingkaran ataupun elips yang dapat muncul pada awan altocumulus atau cirrocumulus



Ketika kristal es terbentuk, akan memicu efek domino. Dikarenakan adanya proses Bergeron, akhirnya menyebabkan tetesan air di sekitar kristal menguap dan meninggalkan tanda yang besar berupa lingkaran ataupun lubang di awan. Lubang pada awan Fallstreak Hole ini terjadi pada saat suhu air pada awan berada di bawah titik beku, namun air tidak membeku disebabkan kurangnya partikel nukleasi es. Tetesan air yang berasal dari Hole Punch Clouds terasa sangat dingin, bahkan jauh lebih dingin dari air yang membeku.


Proses terjadi lubang pada awan Fallstreak Hole, biasanya disebabkan oleh sebuah pesawat yang lewat melalui sekumpulan awan sehingga membantu menciptakan kristal es kecil. Kristal es kecil tersebut yang akhirnya langsung masuk ke lapisan awan. Kristal-kristal kecil ini terbentuk pada daerah yang dilalui sayap pesawat, baik diujung maupun bagian baling-baling pesawat.


Segera setelah kristal es kecil muncul di tengah-tengah lapisan awan yang mengandung tetesan air superdingin, menyebabkan  kristal es kecil tersebut menarik tetesan-tetesan air superdingin dan membantunya untuk membentuk kristal es yang lebih besar. Akibatnya, terbentuklah garis-garis di udara, dan karena banyaknya tetesan-tetesan air superdingin yang mengumpul pada satu tempat sehingga merobek awan dan membentuk sebuah lubang di awan.


Terkadang, terdapat warna pelangi pada awan Fallstreak Hole yang terlihat menyebar melalui bagian dari lubang awan tertentu. Warna pelangi ini disebabkan oleh sinar matahari yang dibiaskan saat melewati kristal-kristal air. Peristiwa ini mirip dengan Parhelion, atau lebih dikenal sebagai Sun Dog.


Terakhir, karena peristiwa ini sangat langka atau jarang dan penampilannya yang tidak biasa serta masih sangat sedikitnya paparan di media, mengakibatkan awan Fallstreak Hole atau Hole Punch Clouds keliru didefinisikan serta sering dikaitkan dengan benda terbang tak dikenal (UFO: Unidentified Flying Object).


Wednesday, May 27, 2015

Awan Cerah di Malam Hari, Noctilucent (Night) Clouds


Jika saat malam tiba sehingga suasana gelap tanpa ada lampu dan tiba-tiba di ujung bumi tempat kalian berpijak, di cakrawala, terlihat awan yang bercahaya atau langitnya masih terang, maka itulah awan Noctilucent.

Awan Noctilucent adalah awan tipis yang berwarna putih keperakan dan dapat dilihat dalam beberapa malam musim panas di arah utara dekat cakrawala, yang pernah terlihat di Eropa dan Rusia. Awan Noctilucent memiliki nama lain yaitu Polar Mesospheric Clouds (PMC).



Berbeda dengan awan-awan lain seperti Awan Lenticular, Awan Mammatus ataupun Undulatus Asperatus yang memiliki ketinggian maksimal 15 km, awan ini justru berada di ketinggian 80-85 km (sekitar 50-53 mil) di bawah Menopause, bagian terdingin dari atmosfer. Awan Noctilucent terdiri dari kristal es yang sangat kecil dengan diameter sekitar 0,1 mikron (1/10.000 mm).


Kita dapat melihat awan Noctilucent karena diakibatkan oleh sinar matahari yang tersebar oleh kristal yang cukup untuk menunjukkan efek warna-warni dari pembiasan cahaya matahari tersebut. Warna tersebut muncul pada langit yang gelap yang masih diterangi oleh sinar matahari. Warna biru yang muncul kemungkinan merupakan hasil dari penyerapan cahaya berwarna merah oleh lapisan ozon di stratosfer. Kadang-kadang warna yang muncul adalah merah dan emas yang merupakan hasil dari cahaya matahari yang rendah yang menerangi mereka. Namun ada juga awan Noctilucent yang berwarna hijau.


Awan Noctilucent hanya dapat terbentuk ketika suhu mesopause sangat rendah. Suhu yang rendah ini biasanya terjadi antara pertengahan bulan mei hingga pertengahan bulan agustus. Pembentukan awan ini membutuhkan kombinasi dari suhu yang rendah, uap air dan inti es yang dapat tumbuh. Awan Noctilucent diperkirakan akan terlihat lebih sering dan lebih cerah di daerah yang rendah. Kegiatan manusia juga kemungkinan berkontribusi atas penampakan awan Noctilucent.




Serangkaian letusan besar dari gunung berapi Krakatau pada akhir agustus 1883 mungkin telah kebetulan membantu untuk menarik perhatian orang-orang atau peneliti terhadap fenomena awan Noctilucent. Debu dan abu yang disuntikkan ke atmosfer yang tinggi dari gunung Krakatau asli Indonesia ini menyebabkan matahari terbenam yang spektakuler dan penuh warna di seluruh dunia selama beberapa tahun.


Pada malam 8 juni 1885, TW Backhouse mengagumi satu matahari terbenam yang indah tersebut di Kissingen, Jerman., saat dia melihat sesuatu yang agak aneh: suasana yang gelap dan muncul cahaya kemerahan yang memudar dan melihat filament tipis berwarna putih kebiruan yang tampak bersinar di utara dan langit laut. Pada saat itu, para ilmuwan menolak efek ini dan beranggapan bahwa peristiwa itu disebabkan oleh abu vulkanik letusan gunung Krakatau. Setelah beberapa tahun, akhirnya abu dari letusan gunung Krakatau mulai habis. Meskipun demikian, ternyata peristiwa yang dilihat oleh TW Backhouse masih tetap terjadi.


Terdapat beberapa perdebatan mengenai siapa yang pertama kali melihat peristiwa awan Noctilucent. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa TW Backhouse bukanlah orang yang pertama kali menunjukkan awan Noctilucent, karena dalam sebuah laporan tahun 1854, Thomas Romney Robinson mengkomunikasikan pengamatan pribadinya dari “sifat pendar awan biasa” di Armagh, Irlandia. Jadi, mereka menyatakan bahwa kemungkinan Thomas Romney Robinson telah membuat referensi awan Noctilucent 31 tahun sebelum TW Backhouse.


Monday, May 4, 2015

Mammatus Clouds, Awan yang Menggantung di Langit


Mammatus Clouds atau disebut juga Mammatocumulus (artinya “awan susu” atau “awan payudara”) merupakan istilah meteorologikal yang sering dikaitkan dengan gumpalan-gumpalan atau kantong yang tergantung di bawah dasar awan dan merupakan suatu fenomena yang sangat langka. Nama Mammatus diambil dari bahasa latin Mamma yang artinya puting atau payudara, karena bentuknya yang menyerupai bagian tubuh wanita, yaitu payudara.



Awan Mammatus biasanya dihubungkan dengan badai petir. Bahkan, jika awan ini terbentuk pada awan kumulonimbus, maka awan mammatus dijadikan sebagai pertanda akan datang badai besar atau bahkan badai tornado. Menurut beberapa pendapat, awan ini bisa muncul sebelum atau sesudah badai/tornado.


Namun ada juga yang berpendapat, bahwa awan Mammatus tidak memiliki hubungan dengan munculnya cuaca buruk seperti badai dan tornado, meskipun awan ini juga kerap muncul sebelum badai terjadi. Hal ini menjadikan awan Mammatus tidak bisa dijadikan sebagai sinyal pasti akan datangnya cuaca yang buruk, dan hanya dapat dijadikan sebagai sinyal ‘kemungkinan’ akan terjadi cuaca buruk saja.


Awan Mammatus terdiri dari kumpulan bentuk lobus atau cuping (seperti payudara) dengan masing-masing berukuran sama maupun memiliki ukuran yang berbeda-beda. Tiap lobus yang membentuk formasi awan ini memiliki diameter rata-rata 1 hingga 3 km dan panjang rata-rata 0,5 km. Sebuah lobus bisa bertahan rata-rata 10 menit, namun jika berkelompok dapat berkisar dari 15 menit hingga berjam-jam. Awan ini biasanya terdiri dari kristal es, tapi juga bisa berupa campuran kristal es dan air, atau hampir seluruhnya air.


Proses terjadinya awan ini di awali dengan naiknya uap air ke udara dan terus naik ke atas. Setelah berada di atas, uap tersebut berubah menjadi embun dan membentuk awan. Namun tetesan air dari embun tersebut berubah menjadi Kristal es, yang terjadi pada ketinggian mencapai 57.000 kaki di atas permukaan. Pada saat itu, gerakan awan ke atas mulai lemah, sehingga air menyebar secara horisontal. Kristal es kemudian mulai tenggelam (hampir jatuh ke bawah) di dasar awan karena lebih padat dari udara disekitarnya. Sementara, di dasar awan mengalami kelembapan yang tinggi, sehingga kristal air terus tenggelam (hampir jatuh ke bawah) dan menciptakan kantong awan yang biasa disebut Mammatus.


Tuesday, April 28, 2015

Undulatus Asperatus, Sang Gelombang di Langit


Undulatus Asperatus adalah awan ke dua setelah Lenticular Clouds (Awan Cantik Di Atas Gunung) yang telah kami sajikan dihadapan kalian. Sama seperti awan sebelumnya, Undulatus Asperatus merupakan salah satu awan yang memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda dengan awan-awan lainnya sehingga mampu menarik perhatian masyarakat dunia.



Undulatus Asperatus yang artinya “Gelombang Gelisah” pernah diajukan oleh Cloud Appreciation Society sebuah organisasi pemerhati awan, ke WMO (World Meteorological Organisation atau Badan Meteorologi Dunia) pada tahun 2009 untuk dimasukkan sebagai salah satu klasifikasi awan yang baru dan berbeda dari awan-awan sebelumnya yang telah ada.


Foto-foto mengenai penampakan awan Undulatus Asperatus ini telah dikirim oleh masyarakat selama bertahun-tahun, namun organisasi Cloud Appreciation Society tidak bisa memasukkan jenis awan ini pada klasifikasi awan yang sudah ada. 


Awan Undulatus Asperatus terlihat seperti laut pada hari yang berombak, bergerak layaknya gelombang lautan. Itulah sebabnya organisasi Cloud Appreciation Society mengusulkan awan ini dengan nama Asperatus yang berasal dari bahasa latin, yaitu kata kerja ‘Aspero’, yang artinya ‘untuk membuat kasar’. Istilah ini digunakan oleh penyair Romawi untuk menggambarkan laut yang bergerak kasar dengan angin utara yang dingin.


Tidak lama setelah organisasi Cloud Appreciation Society mengusulkan nama Undulatus Asperatus sebagai jenis awan yang baru, maka bagaikan ‘pesan viral’, berita tersebut menjadi salah satu berita yang cepat tersebar melalui berbagai media. Berita-berita tersebut muncul di Inggris, Amerika Serikat dan di banyak negara lainnya melalui dunia maya. Berita mengenai usulan awan Undulatus Asperatus ini bahkan dinominasikan sebagai salah satu dari 50 penemuan terbaik di Majalah Time pada tahun 2009.


Segera setelah usulan mengenai awan Undulatus Asperatus disampaikan ke WMO, istilah ini langsung diadopsi oleh cloudspotters di seluruh dunia. Namun organisasi Cloud Appreciation Society masih berpikir bahwa awan yang mereka usulkan sangat tidak mungkin untuk diterima sebagai istilah resmi. Hal ini karena pada saat sebelumnya, The Royal Society Meteorologi telah memberitahu mereka bahwa awan tersebut akan menjadi resmi jika diakui oleh Organisasi Meteorologi Dunia di Jenewa, yang menerbitkan kitab/buku klasifikasi awan, The International Cloud Atlas.


The Royal Society Meteorology saat ini mendorong masyarakat meteorologi internasional untuk memperbarui peta awan dunia, termasuk memasukkan Asperatus untuk membuatnya resmi. Jika Asperatus diterima, itu akan menjadi klasifikasi awan resmi yang pertama dalam 60 tahun. 


Friday, April 24, 2015

Pesona Lenticular Clouds, Awan di Atas Gunung


Jika kalian sedang liburan ke pegunungan atau melakukan kegiatan hiking di gunung atau bukit, sempat-sempatlah untuk melihat ke atas. Ada apa di atas gunung dan bukit? Ya, disana kalian mungkin akan melihat fenomena langka yang jarang terlihat, yaitu munculnya Lenticular Clouds (Awan Lenticular).



Lenticular Clouds (Altocumulus Lenticularis atau Lenticularis Stand Altocumulus) merupakan sejenis awan yang unik dan hanya biasanya terbentuk disekitar bukit-bukit dan gunung-gunung akibat pergerakan udara di kawasan pegunungan. Awan ini dinamakan lenticularis yang artinya “berbentuk lensa”, dan biasanya cukup disebut sebagai awan ”Lennies”. Awan Lenticular dapat dibedakan menjadi Altocumulus Standing Lenticularis (ACSL) yang terjadi di dataran rendah, Stratocumulus Standing Lenticularis (SCSL) pada ketinggian tingkat menengah dan Cirrocumulus Standing Lenticularis (CCSL) pada ketinggian yang lebih tinggi dari atmosfer.


Keunikan awan ini adalah karena bentuknya yang menyerupai piring terbang raksasa atau kumpulan kue pancake yang ditumpuk-tumpuk (juga bentuk lainnya yang khas seperti baret raksasa). Awan ini biasanya terlihat berlapis-lapis (dua atau lebih lapisan dalam satu awan). Karena bentuknya yang mirip piring terbang, awan ini sering disalah-artikan sebagai UFO oleh sebagian orang. Bahkan menurut BBC, awan ini sering dijadikan sebagai penjelasan/alasan yang paling sering diberikan untuk penampakan UFO oleh orang-orang yang mengaku melihat pesawat alien di seluruh dunia. Bentuk awan ini memiliki pola unik yang terbentuk sesuai dengan kecepatan angin serta bentuk pegunungan atau bukit tempat awan ini berada.


Awan Lenticular mampu bertahan pada posisinya selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Awan Lenticular dapat bertahan pada posisinya dalam waktu yang lama dikarenakan aliran udara yang lembab terus menyuplai ke dalam awan ini sesuai dengan komposisi yang dibutuhkan dalam pembentukannya. Proses terbentuknya Lenticular Clouds, yaitu terjadi akibat arus udara yang lembab terdorong ke atas dan melintas melalui puncak gunung atau bukit yang menyebabkan kelembaban, sehingga mengembun dan akhirnya membentuk awan ini. 


Awan ini tergolong awan yang penampakannya sangat langka karena mereka memerlukan gunung atau bukit dengan ketinggian yang cukup serta kondisi meteorologi yang tepat. Awan Lenticular umumnya (yang selalu terlihat, jika muncul) pada ketinggian 8.000 hingga 20.000 kaki (2.438 - 6.096 meter). Jika kalian beruntung, maka kalian akan melihat awan ini di atas pegunungan tempat kalian liburan atau melakukan kegiatan lainnya. Hal yang harus kalian lakukan berikutnya adalah mendokumentasikan pemandangan yang lumayan langka tersebut dan kemudian membagikannya kepada teman-teman kalian.


Post Lainnya