Catatan :

Monday, May 4, 2015

Mammatus Clouds, Awan yang Menggantung di Langit


Mammatus Clouds atau disebut juga Mammatocumulus (artinya “awan susu” atau “awan payudara”) merupakan istilah meteorologikal yang sering dikaitkan dengan gumpalan-gumpalan atau kantong yang tergantung di bawah dasar awan dan merupakan suatu fenomena yang sangat langka. Nama Mammatus diambil dari bahasa latin Mamma yang artinya puting atau payudara, karena bentuknya yang menyerupai bagian tubuh wanita, yaitu payudara.



Awan Mammatus biasanya dihubungkan dengan badai petir. Bahkan, jika awan ini terbentuk pada awan kumulonimbus, maka awan mammatus dijadikan sebagai pertanda akan datang badai besar atau bahkan badai tornado. Menurut beberapa pendapat, awan ini bisa muncul sebelum atau sesudah badai/tornado.


Namun ada juga yang berpendapat, bahwa awan Mammatus tidak memiliki hubungan dengan munculnya cuaca buruk seperti badai dan tornado, meskipun awan ini juga kerap muncul sebelum badai terjadi. Hal ini menjadikan awan Mammatus tidak bisa dijadikan sebagai sinyal pasti akan datangnya cuaca yang buruk, dan hanya dapat dijadikan sebagai sinyal ‘kemungkinan’ akan terjadi cuaca buruk saja.


Awan Mammatus terdiri dari kumpulan bentuk lobus atau cuping (seperti payudara) dengan masing-masing berukuran sama maupun memiliki ukuran yang berbeda-beda. Tiap lobus yang membentuk formasi awan ini memiliki diameter rata-rata 1 hingga 3 km dan panjang rata-rata 0,5 km. Sebuah lobus bisa bertahan rata-rata 10 menit, namun jika berkelompok dapat berkisar dari 15 menit hingga berjam-jam. Awan ini biasanya terdiri dari kristal es, tapi juga bisa berupa campuran kristal es dan air, atau hampir seluruhnya air.


Proses terjadinya awan ini di awali dengan naiknya uap air ke udara dan terus naik ke atas. Setelah berada di atas, uap tersebut berubah menjadi embun dan membentuk awan. Namun tetesan air dari embun tersebut berubah menjadi Kristal es, yang terjadi pada ketinggian mencapai 57.000 kaki di atas permukaan. Pada saat itu, gerakan awan ke atas mulai lemah, sehingga air menyebar secara horisontal. Kristal es kemudian mulai tenggelam (hampir jatuh ke bawah) di dasar awan karena lebih padat dari udara disekitarnya. Sementara, di dasar awan mengalami kelembapan yang tinggi, sehingga kristal air terus tenggelam (hampir jatuh ke bawah) dan menciptakan kantong awan yang biasa disebut Mammatus.


1 comment:

Post Lainnya